Tag Archives: Autism spectrum disorder adalah

Mengenal Autism Spectrum Disorder

1. Apa itu Autism Spectrum Disorder?

Autism Spectrum Disorder (ASD) atau yang sering dikenal dengan Gangguan Spektrum Autisme (GSA) merupakan gangguan perkembangan pada otak manusia. Gangguan ini sudah muncul sejak masih anak-anak. Kata ‘spektrum’ pada gangguan ASD menandakan berbagai macam kekuatan dan kelemahan yang dimiliki setiap penderita.

Penderita ASD di Indonesia belum memiliki data yang akurat, namun pada tahun 2013, Direktur Bina Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan menduga sekitar 112 ribu dengan rentang 5-19 tahun.

Selain itu, penelitian di dunia mengungkapkan bahwa penderita ASD telah mengalami peningkatan angka. Center for Disease Control and Prevention di Amerika Serikat menyatakan penderita autisme adalah 1 dari 42 anak laki-laki dan 1 dari 189 anak perempuan.

2. Kriteria Penderita Autism Spectrum Disorder

Sulitnya penderita untuk berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya, terkadang semakin memperparah keadaan. Tingkah laku anak-anak autisme dapat ditunjukkan dengan berbagai cara. Penderita ASD memiliki tiga kriteria, yakni :

A. Interaksi Lingkungan Sosial

Penderita ASD yang masuk ke dalam masalah interaksi sosial cenderung susah dalam mengekspresikan diri di lingkungan. Penderita pada tipe ini kesusahan untuk melihat mata seseorang yang sedang berinteraksi dengan mereka.

Tingkah laku lain yang ditunjukkan adalah kurangnya untuk membagi kebahagiaan, seperti apa yang ia senangi atau prestasi yang diraih, dengan orang lain.

B. Komunikasi

Penderita ASD yang masuk ke dalam kriteria komunikasi adalah penderita yang susah dalam perkembangan bahasa lisan. Perkembangan bahasa lisan yang dimaksud adalah penderita susah untuk berkomunikasi.

Penderita ini ada yang cenderung pasif untuk berkomunikasi, sehingga cenderung menerima percakapan. Sebaliknya, ada penderita yang terlalu ekspresif dalam berkomunikasi.

C. Pola Perilaku Berulang

Kriteria terakhir penderita ASD adalah perilaku berulang. Perilaku ini bisa saja dengan mengetuk-ngetuk atau meremas tangan. Apabila penderita merasa terganggu, ia bisa melukai diri sendiri seperti membenturkan kepala.

Penderita tidak hanya melakukan perilaku atau aktivitas berulang, namun bisa dengan perilaku yang berlebihan seperti jalan berjinjit atau berjalan layaknya seperti robot.

Penderita terkadang baru disadari mengidap ASD ketika mereka sudah beranjak dewasa. Hal tersebut terlihat dari tingkah laku yang mulai tidak sesuai dengan umur penderita.

Orangtua sebagai lingkungan pertama bagi anak patut peka dengan kondisi yang dialaminya. Hal ini diharapkan agar penderita ASD segera mendapat penanganan yang tepat sebelum terlambat dan penderita ASD dapat kembali normal seperti anak pada umumnya.