Category Archives: kesehatan

Diabetic neroupathy komplikasi lain dari diabetes melitus

Kita sudah sering mendengar kata-kata komplikasi. Sebenarnya apa sih yang disebut komplikasi itu sendiri ? Komplikasi adalah suatu kondisi dimana penderita mengalami dua atau bahkan lebih suatu penyakit yang mana penyakit kedua atau seterusnya ini adalah akibat atau lanjutan dari penyakit pertama.

Contohnya penyakit diabetes melitus, ini adalah penyakit utama atau pertama yang menghinggapi tubuh seseorang, seiring dengan berjalannya waktu kondisi menjadi lebih parah, lalu menyerang organ tubuh lain yaitu menyerang mata yang disebut retinopati diabetik, lalu menyerang sistem persarafan yang dinamakan diabetic neuropathy ini.

Jadi definisi diabetic neuropathy adalah gangguan atau kerusakan sisrem saraf akibat penyakit diabetes melitus baik tipe 1 maupun tipe 2, dimana kadar gula tinggi dalam darah.

Gejala dan tanda-tanda diabetic neuropathy :

  • Saraf tungkai dan wajah : lemah pada otot-otot nya, lumpuh tidak bisa digerakkan biasanya menyerang tungkai bawah, sakit pada tulang diatas mata
  • Saraf pada sietem pencernaan : diare, sembelit, kembung
  • Saraf genital atau daerah kelamin : disfungsi ereksi, tidak mampu mencapai orgasme, kekeringan pada organ intim
  • Saraf perkemihan : buang air kecil terus menerus, merasa tidak tuntas saat setelah buang air kecil
  • Saraf sistem perifer : kesemutan, baal, hilang rasa, kesemutan, otot melemah, luka gangren pada daerah kaki

Faktor-faktor resiko diabetic neuropathy :

  • Jumlah gula dalam darah yang tidak terkontrol dengan baik. Melesatnya kadar gula ini faktor resiko utama yang menyebabkan komplikasi terjadinya diabetic neuropathy
  • Usia penderita, semakin lanjut usia maka semakin tinggi resiko komplikasi ini terjadi
  • Lamanya mengidap penyakit diabetes melitus, penderita dengan diabetes melitus menahun akan lebih rentan mempunyai komplikasi tersebut
  • Kebiasaan merokok dan mengkonsumsi alkohol, kedua faktor ini adalah faktor resiko yang tidak dapat dihindari untuk menimbulkan diabetic neuropathy
  • Kelebihan berat badan, semakin berat tubuh seseorang maka semakin tinggi pula resikonya terkena diabetic jenis ini

Pencegahan diabetic neuropathy :

  • Disiplin mengontrol kadar gula darah, selalu melakukan medical check up untuk tahapan waktu yang telah dijadwalkan oleh tenaga medis
  • Rajin berolahraga
  • Minum obat secara teratur
  • Hentikan rokok dan alkohol
  • Memelihara kebersihan dan kesehatan tungkai terutama kaki, selalu memakai alas kaki

 

Mengenal Autism Spectrum Disorder

1. Apa itu Autism Spectrum Disorder?

Autism Spectrum Disorder (ASD) atau yang sering dikenal dengan Gangguan Spektrum Autisme (GSA) merupakan gangguan perkembangan pada otak manusia. Gangguan ini sudah muncul sejak masih anak-anak. Kata ‘spektrum’ pada gangguan ASD menandakan berbagai macam kekuatan dan kelemahan yang dimiliki setiap penderita.

Penderita ASD di Indonesia belum memiliki data yang akurat, namun pada tahun 2013, Direktur Bina Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan menduga sekitar 112 ribu dengan rentang 5-19 tahun.

Selain itu, penelitian di dunia mengungkapkan bahwa penderita ASD telah mengalami peningkatan angka. Center for Disease Control and Prevention di Amerika Serikat menyatakan penderita autisme adalah 1 dari 42 anak laki-laki dan 1 dari 189 anak perempuan.

2. Kriteria Penderita Autism Spectrum Disorder

Sulitnya penderita untuk berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya, terkadang semakin memperparah keadaan. Tingkah laku anak-anak autisme dapat ditunjukkan dengan berbagai cara. Penderita ASD memiliki tiga kriteria, yakni :

A. Interaksi Lingkungan Sosial

Penderita ASD yang masuk ke dalam masalah interaksi sosial cenderung susah dalam mengekspresikan diri di lingkungan. Penderita pada tipe ini kesusahan untuk melihat mata seseorang yang sedang berinteraksi dengan mereka.

Tingkah laku lain yang ditunjukkan adalah kurangnya untuk membagi kebahagiaan, seperti apa yang ia senangi atau prestasi yang diraih, dengan orang lain.

B. Komunikasi

Penderita ASD yang masuk ke dalam kriteria komunikasi adalah penderita yang susah dalam perkembangan bahasa lisan. Perkembangan bahasa lisan yang dimaksud adalah penderita susah untuk berkomunikasi.

Penderita ini ada yang cenderung pasif untuk berkomunikasi, sehingga cenderung menerima percakapan. Sebaliknya, ada penderita yang terlalu ekspresif dalam berkomunikasi.

C. Pola Perilaku Berulang

Kriteria terakhir penderita ASD adalah perilaku berulang. Perilaku ini bisa saja dengan mengetuk-ngetuk atau meremas tangan. Apabila penderita merasa terganggu, ia bisa melukai diri sendiri seperti membenturkan kepala.

Penderita tidak hanya melakukan perilaku atau aktivitas berulang, namun bisa dengan perilaku yang berlebihan seperti jalan berjinjit atau berjalan layaknya seperti robot.

Penderita terkadang baru disadari mengidap ASD ketika mereka sudah beranjak dewasa. Hal tersebut terlihat dari tingkah laku yang mulai tidak sesuai dengan umur penderita.

Orangtua sebagai lingkungan pertama bagi anak patut peka dengan kondisi yang dialaminya. Hal ini diharapkan agar penderita ASD segera mendapat penanganan yang tepat sebelum terlambat dan penderita ASD dapat kembali normal seperti anak pada umumnya.

Ciri-Ciri Bayi Autis

Autisme merupakan gangguan pada otak yang membuat penderitanya sulit berinteraksi. Selain itu, penderita autis juga tidak mudah memahami emosi. Gejala-gejala autisme biasanya muncul pada usia 9 bulan hingga 2 tahun. Semakin cepat autisme dideteksi, semakin efektif juga penanganan yang bisa dilakukan.

Untuk itu, kenalilah ciri-ciri bayi autis berikut ini.

1. Enggan Berinteraksi

Bayi dengan autisme seringkali diam ketika namanya dipanggil. Mereka juga tidak mudah tersenyum saat orang lain mengajaknya bercanda. Biasanya, mereka akan menampilkan raut wajah yang kaku. Ketika sedang bermain, mereka juga cenderung asyik sendiri dengan mainannya.

2. Tidak Menyukai Kontak Fisik

Pada umumnya, bayi akan suka dipeluk dan digendong. Akan tetapi, bayi autis tidak menyukainya. Mereka merasa tidak nyaman dengan kontak fisik. Baginya, sentuhan dan ciuman merupakan gangguan.

3. Cenderung Rewel

Seringkali, bayi autis juga memiliki gejala hiperaktif. Akibatnya, mereka cenderung rewel karena merasa tidak nyaman. Jika sulit diam, orang tua sebaiknya berkonsultasi ke dokter untuk memberi penanganan.

 

Cara Mengatasi Anak Autis Hiperaktif

Ketika gejala hiperaktif terus muncul pada bayi autis, mereka harus diberikan pengobatan. Terdapat beberapa cara untuk mengatasi anak autis hiperaktif. Mulai dari konsumsi vitamin, olahraga, terapi, hingga menghindari stress.

1.Tidak suka suara berisik

Bayi dengan autisme tidak menyukai suara berisik. Jika mendengar suara seperti itu, mereka bisa menangis ataupun berteriak-teriak. Untuk itu, bayi perlu dipindahkan ke tempat yang lebih tenang.

2. Mudah marah

Bayi dengan autisme akan lebih sensitif sehingga mudah marah. Selain itu, mereka juga mudah merasa sedih. Kita tidak bisa menebak perubahan suasana hati bayi yang cepat berganti.

3. Minimnya kontak mata

Bayi tidak suka memandang orang yang sedang berinteraksi dengannya. Ketika ada komunikasi, mereka sulit untuk menatap lawan bicaranya. Perhatian mereka juga teralihkan untuk hal lain.

4. Fokus pada hal tertentu

Bayi autis cenderung fokus pada hal-hal tertentu saja. Mereka akan melakukan sesuatu berulang-ulang. Oleh karena itu, aktivitasnya cenderung terbatas karena mereka cenderung asik pada keinginannya sendiri.

 

Hipertrofi Bilik Kiri

Bilik kiri bekerja sebagai pemompa darah dari jantung keseluruh tubuh, maka ini adalah salah satu yang ter-penting dari kehidupan. Masalah pada bilik kiri akan menyebabkan masalah pada semua anggota tubuh.

DOKTER – Hipertrofi pada bilik kiri adalah salah satu kondisi dimana dinding ventrikel kiri jantung mengalami penebalan dan pembesaran. Tekanan darah tinggi adalah salah satu faktor terjadinya hipertrofi karena jantung harus bekerja lebih keras. Karena jantung yang bekerja begitu keras, maka otot pada jantung juga menebal bahkan ukuranya bertambah besar. Hipertrofi pada bilik kiri dapat menyebabkan serangan jantung dan stroke.

GEJALA HPERTROFI PADA BILIK KIRI
Gejala hipertrofi sendiri berkembang bertahap seiring waktu. Gejalanya antara lain;
• Lelah pada tubuh
• Nyeri dada, terutama setelah olahraga
• Pusing
• Kepala seakan terasa kosong dan ringan
• Napas pendek
• Detak jantung berdebar
Gejala yang harus diwaspadai dan perlu penanganan medis;
• Nyeri dada lebih dari beberapa menit (Terjadinya lama)
• Merasa diri ringan jadi menimbulkan sensasi melayang seperti pingsan atau bahkan sudah sampai pingsan
• Susah untuk bernapas

PENYEBAB DARI HIPERTROFI BILIK KIRI

Jantung bekerja memompa darah ke seluruh tubuh namun sirkulasinya jauh lebih cepat dan keras dari pada normalnya. Olahraga terlalu keras, penyakit pada katup aorta, hipertrofi kardiomiopati juga dapat menyebabkan hal ini terjadi.
Olahraga memang hal yang baik untuk kebugaran tubuh, namun tidak terlalu keras. Olahraga yang terlalu kerad dan lama dapat memicu hipertrofi pada bilik jantung sebelah kiri. Sama halnya dengan gangguan katup aorta, dimana katup menyempit hingga bilik kiri harus berusaha menyeimbangkan.
Reiko dari hipertrofi pada bilik kiri juga dapat meningkat sesuai perkembangan tubuh terutama untuk orang yang memiliki berat badan lebih, diabetes, dan riwayat keluarga dengan penyakit ini dan masalah gen tertentu.

KOMPLIASI PADA HIPERTROFI BILIK KIRI


Komplikasi yang dapat muncul;
• Stroke
• Jantung berhenti secara mendadak
• Gagal jantung (kondisi dimana jantung gagal memompa darah keseluruh tubuh)
• Gangguan pada irama jantung (Irama jantung lebih cepat)
• Fibrilasi Serambi. Dimana denyut pada serambi jantung sangat epat namun tidak beraturan

Gejala Jantung Koroner

Jantung koroner adalah salah satu penyakit jantung yang lebih banyak diketahui oleh masyarakat. Walaupun pada kenyataannya banyak jenis penyakit jantung lainnya.

Pada awal penderita jantung koroner itu terjadi karena banyak penumpukan lemak/kolesterol yang berada pada dinding pembuluh darah jantung. Penumpukan lemak ini membuat pembuluh darah menipis bahkan bisa sampai tersumbat.

Jika pembuluh darah menyempit/ tersumbat, otomatis aliran darah pun juga akan berkurang menuju ke jantung dan otot jantung. Akibatnya begitu banyak dan pastinya serius. Kekurangan darah pada jantung juga bisa menimbulkan serangan jantung secara tiba-tiba dan menyebabkan nyeri pada bagian dada.

Namun jantung koroner berbeda dengan serangan jantung, jantung koroner akan lebih terlihat gejala bagi para penderitanya. Kita akan bahas 4 Gejala/ ciri dari Jantung Koroner, antara lain;

  • SAKIT BAGIAN ULU HATI

Penderita jantung koroner akan merasakan sakit pada bagian ini, biasanya juga disertai dengan perut yang kembung. Ciri-cirinya bisa lebih dekat seperti orang masuk angin di negara Indonesia. Tapi apa yang membedakan kembung biasa dengan jantung koroner? Yang membedakan adalah denyut jantung. Bisa jadi detak jantung penderita ikut melemah dan berkeringat.

  • NAPAS PENDEK-PENDEK

Kondisi ini bisa jadi bersamaan dengan nyeri pada dada. Jika seorang manusia mengalami penyakit jantung, pastinya ini ber-imbas pada rongga pernapasan (Karena letak jantung adalah ditengah paru-paru). Napas pendek perlu diwaspadai ketika anda  melakukan kegiatan sehari-hari, namun terasa cepat lelah.

  • RASA SAKIT DI LEHER DAN LENGAN SEBELAH KIRI

Rupanya tidak hanya sakit di bagian ulu hati saja, sakit pada leher dan lengan bagian kiri masih ada hubungannya dengan sakit pada dada. Pada awalnya memang di bagian ulu hati namun jika itu menjalar menuju leher dan lengan sebelah kanan dan terasa seperti tercekik maka harus waspada. Segeralah menemui dokter untuk mendapatkan perawatan dengan tepat.

  • SAKIT KEPALA

Tidak hanya sakit pada ulu hati, leher dan lengan kiri. Sakit kepala adalah salah satu hal yang paling umum mendeteksi penyakit yang berkaitan dengan aliran darah. Jika kondisi sakit kepala berbeda dengan yang biasa anda alami, maka segera lah datang ke dokter untuk bertanya dan mendapatkan perawatan.

Demikian merupakan 4 dari sekian penejelasan dari gejala Jantung Koroner.